slider

header ads

Tuhan dalam Secangkir Kopi - Denny Siregar


Dulu saat masih kerja di restoran, istirahat itu nggak bisa bareng-bareng. Alias langsung semuanya turun istirahat, kecuali shift selanjutnya sudah datang semua dan siap menggantikan.

Biasanya kita bergantian untuk turun istirahat; kadang sendiri-sendiri atau berdua. Istirahat biasanya dimanfaatkan untuk selonjoran diluar, setelah berpanas-panasan main api di dapur. Bagi yang ngrokok, sudah pasti ngrokok. Menghilangkan rasa asem di mulut, katanya kalau nggak ngrokok. Entah gimana itu rasanya, soalnya aku nggak ngrokok.

Tapi aku jarang sih istirahat diluar. Biasanya tetap di dapur sambil nyemilin makanan yang ada, atau nyelesaiin laporan biar bisa pulang tenggo. Tapi kadang ikut juga kalau lagi sumpek  di dapur. Suatu kesempatan nemenin salah satu teman yang mau ngrokok dibawah. Turunlah kita belakang RS (Restoran tempat kerja dulu ada si dalam RS), tempat ngrokok para karyawan RS ataupun tamu yang nginap di RS. Karena di dalem emang nggak boleh ngrokok sama sekali. Biasanya tukang kopi keliling yang pakai sepeda sering mangkal disana.

"Udud bari ngopi teh nikmat" kata pepatah mah. Yang artinya "Ngrokok sambil ngopi itu nikmat" aku sih agak bingung ya. Gimana caranya ngrokok sambil ngopi. Bukannya susah? Kecuali bibirnya ada dua. Biar satu bisa ngrokok, satu lagi buat ngopi.

Tapi daripada bingung mikirnya itu teg gimana, aku ikutan aja pesen kopi gegayaan. Padahal nggak suka kopi  aku tuh. Sambil mainin hp masing-masing  dan ngomongin kapan gajian, kita duduk santai disana. Nikmatin kopi masing-masing.

Sekali teguk, kopi yang sudah didiamkan agar panasnya pas ditoleransi mulut dan sekitarnya itu tandas. Hanya sisa-sisa ampasnya aja yang tersisa, seperti kenangan.

"Yeah maneh, ngges beak eta kopina??" Ujar temanku dengan nada kaget, setelah melihat gelas plastik dihadapanku hanya bersiaa ampas kopinya.

"Yaiyalah, kan beli kopi buat diminum. Ya kalau diminum harus diabisin. Mubazir atuh" jawab aku polos.

"Nginum kopi atawa haus eta teh?"

"Ya kalau minum pasti tandanya haus."

"Ai maneh, minum kopi pelan-pelan. Dinikmatin. Seruput, udud. Seruput udud. Kitu!!" Jelasnya, dengan gerakan tangannya mencontohkan cara menyeruput kopi dengan slow motion, lalu merokok.

"Ya kan gue, nggak ngrokok. Ya masa, gue nyemilin rumput liar?" Jawabku sedikit emosi. Mana ada aturannya minum kopi harus gitu. Sejak itu pun aku malas minum kopi.

Tapi sekarang aku pahami, ternyata minum kopi memang nggak bisa langsung tandaskan. Untuk perut nggak baik, dan nggak baik juga kalau ngopi ditempat mahal dan ketawan nggak pernah ngopinya. Karena emang rata-rata orang gitu minummnya. Entah berapa milimeter yang harus masuk pertegukannya ke dalam mulut. Intinya slowly but sure.

Seperti kopi yang disuguhkan oleh Denny Siregar, ternyata aku nggal bisa langsung tegus sampai habis. Walaupun bukunya ini terlihat tipis dengan tebal 217 halaman saja. Aku akan cepat merasa capek membacanya.

Aturan membaca  buku "Tuhan dalam secangkir kopi" ini aku rasa, punya prinsip yang sama. Saat dipaksakan membaca terus, ada efek pusingnya. Seperti mabuk. Jadi aku mencoba metode membacanya sesekali. Ternyata efeknya berbeda. Memenangkan dan mencerahkan, saat sesekali aku menyesap beberapa judulnya ketika senggang.

Aku akui ini buku yang bagus, bagus banget malah untuk muatan materinya. Ibarat sate, ini setiap tusuknya daging semua. Nggakbada yang campur kulit apalagi lemak.

Banyak hal-hal yang membuat aku berseru dalam hati "Iya juga ya!" Atau "Nah emang gini sih seharusnya" atau malah seperti ini "Duh gue banget ini mah!! Malu deh gue sama Allah jadinya :( "

Salah satu judul yang aku suka adalah

"Refleksi 2014"

Ketika masih awal-awal mengenal Islam, seperti seorang anak kecil saya senang “menilai” seseorang. Mengukur tinggi rendahnya iman seseorang berdasarkan kacamata saya. Satu hari, ketika saya sedang ngopi di mal dengan harga segelas cappucino Rp30.000, seorang anak kecil menghampiri saya, menawarkan koran. Dengan gaya seorang baik budi, saya membeli korannya dengan harga dua kali lipat. Si anak mengucapkan terima kasih.

“Adek enggak sekolah?”

“Sekolah, Bang, sore tapinya. Siang kerja.”

“Kalau kerja terus sekolah, kapan ibadahnya?”

“Lho, bukannya kerja itu ibadah?”

“Maksud Abang, kapan Adek ngaji-nya?”


Anak SD penjual koran itu berkata, “Tiap hari saya ngaji, Bang. Saya enggak mau nyuri meski saya butuh uang. Saya enggak mau bohong, meski perut saya melilit. Saya enggak mau ngelem (istilah anak jalanan untuk mabok dengan menghirup lem merek tertentu) karena saya tahu itu dosa dan merusak diri saya. Kalau badan saya rusak, saya enggak bisa bantu ibu cari makan.”

Plak! Rasanya saya ditampar oleh kesombongan saya sendiri. Kata-kataanak kecil itu mengena sekali.

Dia mengkaji hidup lewat apa yang dilaluinya setiap hari di jalanan. Dia punya rambu-rambu sehingga tidak melanggar batas-batas. Dia bersentuhan dengan ke miskinan, dan kemiskinan mengajarinya banyak hal. Dia be gitu cerdas, sehingga mampu mengambil makna dari apa yang dikajinya. Sedangkan saya? Saya hanya membaca apa yang tertulis dengan lafaz yang dibagus-baguskan, supaya terlihat alim. 

Saya bahkan tidak mampu mengambil apapun dari apa yang saya baca. Saya yang duduk di cofee house membuang uang puluhan ribu dihajar telak oleh seorang anak, yang bergelut dengan pendapatan Rp200 per lembar koran.

Ketika sore dan lelah berpikir, saya pulang menelusuri teras mal menuju tempat parkir. Saya melihat seorang anak kecil duduk menghadap tembok, seperti sedang membaca sesuatu. Ketika saya lewat  di dekatnya, sekilas saya mendengar ayat-ayat suci dilantunkan oleh si anak penjual koran.

Tidak terasa airmata saya jatuh setetes. Bukan karena terharu melihat si anak penjual koran itu. Tapi, karena rasa malu yang tidak terkira akibat baju kesombongan saya yang terlalu tebal.

“Tuhan, Engkau memang Maha, ketika menghajar manusia dengan cara yang sangat misterius.”

Gimana mantap banget kan bab ini. Silahkan menikmati sajian kopi dari Denny Siregar, tapi ingat minum secara perlahan.

Post a Comment

19 Comments

  1. Tulisan bang Tian memang selalu inspiratif. Kayaknya cocok jadi kandidat ketua odop 2010 ini.

    ReplyDelete
  2. Kok aku bisa nangis ya baca ini. Nangis dalem ati... patut dijadikan koleksi lemariku (yg udah penuh sebenernya dan waktunya beli lemari baru)

    ReplyDelete
  3. pengen komen, tapi gak jadi.. :D

    ReplyDelete
  4. huaaaa keren pasti buku ini. HUnting aahhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. monggo Mba Nurul nggak akan nyesel deh sumpah

      Delete
  5. Tulisannya makin mantap nih mas Ian ^^

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan memberikan komentar. 😘