slider

header ads

Hari Lahir





Sekarang tepat pukul sembilan malam, berarti sekitar tiga jam lagi adalah hari ulang tahunku. Dulu mungkin aku amat senang dengan datangnya hari kelahiranku itu. Euphoria hari lahir begitu terasa, ucapan selamat dari ibu dan bapak, serta keluarga lainnya, nasi kuning sederhana atau kalau mujur, keik bantat khas Ibu yang tetap terasa nikmat.

Aku tak tahu kenapa dalam Bahasa Indonesia perayaan hari lahir disebut ulang tahun. Rasanya kurang tepat, karena kita tidak benar-benar mengulangnya bukan? Harinya akan berbeda, musim yang berbeda, dan kematangan jiwa ini berbeda. Waktu terus maju bukan? Tidak ada pengulangan!

Aku masih ingat, setiap ulang tahunku selama sekolah dasar. Aku akan membawa dua bungkus permen sesuai tradisi kala itu, kemudian aku membagikannya pada teman sekelas. Itu sudah membuatku sangat berbahagia, begitu juga dengan teman-temanku yang mendapat permen gratis.

Sedang saat masa SMP hingga kini, aku lebih suka menyembunyikan tentang hari lahirku. Hanya keluarga dan Facebook yang cukup rajin mengingatkan serta mengucap selamat.

Pukul 00.23 adalah jam aku di lahirkan. Kata orang tua dulu, anak yang lahir dini hari kelak akan menjadi pemberani. Aku sedikit ragu, buktinya aku tidak seberani yang diharapkan. Begitu banyak ketakutan yang aku miliki, terutama seiring bertambahnya usia.

Pukul 00.23 esok adalah waktu dimana aku lahir.

Aku membayangkan diriku adalah seekor cupid kecil kala itu, masa sebelum dilahirkan ke dunia Di surga sana aku memiliki sayap-sayap kecil yang berkepak lembut, berambut ikal berwarna coklat kemerahan tengah bermain-main di surga. Berkejaran dibawah sungai susu, yang mengalir dengan suara gemericik merdu.

Tiba-tiba saja Tuhan berada di belakangku, berkata lembut 'Sudah saatnya...' dan tanpa bertanya aku mengikuti Tuhan yang sudah berjalan di depan tanpa menungguku. 'Kami' para cupid kecil paham betul kalimat 'sudah saatnya' yang di maksud Tuhan. Tentu sebuah kebahagiaan yang tiada tara menunggu di ujung sana.

Inilah saatnya, bisikku dalam hati, teman-teman cupidku mengiringi dengan tatapan iri seraya berkata 'betapa beruntungnya dia.'

Tuhan berhenti di sebuah bukit hijau yang ditumbuhi rerumputan hijau nan lembut. Ditengah bukit ada sebatang pohon yang telah meranggas tidak menyisakan satu daun pun, satu-satunya pohon kering di Surga. Cabang-cabangnya yang saling menjalin, membentuk  penyangga untuk sebuah buku. Seorang malaikat yang baru datang menaruh sebuah buku bersampul beludru warna merah cerah. Aku masih berdiri dibelakang Tuhan, kemudian berdiri di sampingnya saat Ia mengisyaratkan untuk mendekat.

'Ini Lauh Mahfuzh milikmu, kemari lihatlah'  tanpa diperintah dua kali aku membuka lembar demi lembar buku itu. Mencermati setiap tulisan disana, aku tertawa saat bagian yang lucu, menangis sejadinya saat bagian yang menyedihkan. Terharu saat momen-momen bahagia.

'Baiklah, aku terima Wahai Tuhan. Pasti akan sangat menyenangkan menjalani ini semua. Tapi bukankah tidak menyenangkan kalau aku sudah tahu semua apa yang akan aku lakukan dibawah sana nanti?'

'Tentu, maka dari itu aku akan membuatmu amnesia. Lupa semua hal yang kau pernah lakukan di Surga ini dan lupa telah membaca semua kisah hidupmu. Dan ingat, aku memberimu ini dan ini sebagai bekal untuk mengingatku kembali' ujar Nya sambil menunjuk kepalaku dan dadaku.

'Baik aku terima semuanya Wahai Tuhan. Bisakah kau kirim aku segera?' ujarku tidak sabar. Aku terlalu bahagia akan terlahir ke bumi menjadi seorang manusia. Padahal aku sudah membaca semua hidupku, ada dimana masa aku terpuruk yang membuatku tak mampu lagi bertahan. Tapi ternyata Tuhan memberikan bahagia di ujungnya. Begitu kiranya yang aku kala itu ketika menerima untuk dilahirkan.

Hingga kini aku amnesia, lupa semua buku hidupku yang telah aku baca. Menikmati setiap bahagia yang membuatku ingin menari-nari. Mencecap kegagalan, cobaan dan kesedihan yang membuatku berpikir lebih baik mati. Tapi aku kuatkan diri, aku tidak pernah meragukan diri ini yang telah memilih diturunkan ke bumi. Aku yakin di Lauh Mahfuzh itu tak semuanya tentang rasa sait dan kehancuran diriku yang membuatku tak bisa bangkit seperti saat ini. Akan ada bahagia diujung sana menanti saat aku bersabar dan selalu mengingat semuanya akan baik-baik saja. Mana mungkin, aku mau diterjunkan ke dunia hanya untuk bersedih dan berduka? Aku percaya, akan selalu ada cahaya mentari yang menghangatkan jiwa selepas pekat malam yang beku.

Selamat hari lahir untukku.

Semoga aku selalu mengingat saat hari dimana aku begitu berani mengambil keputusan untuk dilahirkan ke bumi.

 

Subang, 25 Maret 2020


Photo by Liane Metzler on Unsplash


Post a Comment

4 Comments

  1. happy birthday ya mas. heheh. bener nggak ini tentang ulang tahun mas sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe bukan Mas, ini buat seseorang eaa...

      Delete
  2. wadaw bagus banget ini bang. terima kasih sudah mengingatkan janji-janji Tuhan yang gak mungkin jelek. jadi siapa sebenarnya yang ulang tahun?

    ReplyDelete
    Replies
    1. MAkasi Wi hehehe ada deh seseorang katanya minta kado haha, jadilah kadonya sebuah ungkapan kata ini

      Delete

Terima kasih telah berkunjung dan memberikan komentar. 😘